UBSI Gelar Seminar dan Awarding Pemuda Digital di Slawi
- account_circle Dita Febi Ariyanti
- calendar_month Kamis, 1 Okt 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
TegalHitz.com, Tegal – Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) menggelar Seminar dan Awarding Pemuda Digital di Hotel Grand Dian Slawi. Kegiatan tersebut berlangsung mulai pukul 09.00 hingga 12.00 WIB.
Seminar tersebut membahas penguatan karakter generasi muda serta pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam dunia pendidikan. Peserta juga mendapatkan wawasan mengenai pentingnya mengenali diri, menentukan pilihan pendidikan dan karier, serta menggunakan AI secara bijak.
Kepala Kampus UBSI, Warjiyono, M.Kom., memperkenalkan UBSI sebagai perguruan tinggi yang mengusung konsep “Grow With Vision”. Konsep tersebut mengedepankan kualitas pendidikan, pemanfaatan teknologi, serta persiapan mahasiswa menghadapi dunia kerja.
Dalam kegiatan tersebut, UBSI memperkenalkan berbagai fasilitas dan program. Fasilitas tersebut meliputi Digital Campus Experience, e-learning, e-library, laboratorium, repository, hingga fasilitas internet.
UBSI juga memiliki career center yang memberikan pendampingan karier kepada mahasiswa. Program tersebut membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk memperoleh sertifikasi kompetensi BNSP.
Selain itu, UBSI menyampaikan sejumlah program beasiswa, di antaranya beasiswa talenta digital dan Beasiswa Indonesia Cerdas. Kampus juga memperkenalkan program apresiasi bagi sekolah melalui kegiatan edu trip ke Yogyakarta hingga Singapura dan Malaysia.
Sejumlah sekolah telah mendapatkan kesempatan mengikuti program tersebut. Sekolah tersebut antara lain SMK Ihsaniyah, MAN Kota Tegal, SMK Negeri 3 Tegal, SMA Negeri 1 Kramat, SMK Negeri 1 Slawi, SMK Negeri 2 Tegal, dan SMK Negeri 1 Dukuhturi.
Salah satu peserta dari SMK Negeri 1 Slawi turut membagikan pengalamannya setelah mengikuti edu trip hingga Malaysia dan Singapura.
Psikologi dan Pentingnya Mengenali Diri
A.D. Andriyanti, S.Psi., Psi., psikolog dari RSUD Kardinah, menjadi narasumber pertama. Ia membahas pentingnya mengenali diri sebelum menentukan pilihan pendidikan maupun karier.
Andriyanti mengajak siswa menjawab tiga pertanyaan, yaitu “Who am I?”, “What is out there?”, dan “What can I do?”.
Ketiga pertanyaan tersebut berkaitan dengan minat, bakat, potensi, motivasi, pengalaman, pilihan jurusan, perguruan tinggi, dunia kerja, kompetensi yang dibutuhkan, serta kesiapan akademis dan emosional.
Dalam menentukan pilihan karier, siswa juga diajak mempertimbangkan tiga aspek melalui teknik tiga lingkaran, yaitu “Saya suka”, “Saya bisa”, dan “Saya butuhkan”.
Titik temu ketiga aspek tersebut dapat membantu siswa mengeksplorasi pilihan karier yang sesuai dengan dirinya.
Andriyanti juga mengingatkan sejumlah faktor yang dapat memengaruhi pilihan jurusan siswa. Faktor tersebut antara lain mengikuti teman, takut mengecewakan orang tua, mengejar gengsi, belum memahami potensi diri, hingga kurang mencari informasi.
Menurutnya, guru BK tidak hanya berperan memberikan jawaban mengenai masa depan siswa. Guru BK juga dapat menjadi fasilitator yang membantu siswa memahami diri, mengatasi keraguan, dan mengambil keputusan.
AI sebagai Partner, Bukan Pengganti Proses Berpikir
Mustofa, M.Kom., Partner of DICO sekaligus AI Enthusiast, menjadi narasumber kedua. Ia membahas perkembangan AI dan perannya dalam kehidupan siswa, termasuk dalam dunia pendidikan.
Menurut Mustofa, siswa kini dapat memperoleh informasi mengenai perguruan tinggi, jurusan, maupun dunia kerja melalui internet dan AI. Namun, siswa tetap membutuhkan kemampuan berpikir kritis saat menggunakan teknologi tersebut.
Ia memperkenalkan konsep cognitive offloading, yaitu kondisi ketika manusia membebankan sebagian proses berpikir kepada alat bantu.
Perkembangan teknologi membuat berbagai pekerjaan yang sebelumnya dilakukan secara manual dapat dilakukan dengan bantuan perangkat digital dan AI. Karena itu, siswa perlu tetap menggunakan kemampuan berpikir ketika memanfaatkan teknologi.
Mustofa menekankan bahwa AI sebaiknya digunakan sebagai thinking partner, bukan sebagai pengganti proses berpikir.
Saat memilih jurusan, misalnya, siswa dapat menggunakan AI untuk menguji alasan yang sudah dimiliki. AI juga dapat membantu menemukan pertimbangan lain dan memperluas informasi.
Siswa tetap perlu mengevaluasi jawaban yang diberikan AI. Mereka tidak seharusnya langsung menerima seluruh informasi tanpa melakukan pengecekan.
Mustofa menggambarkan konsep tersebut melalui istilah copilot dan autopilot. Sebagai copilot, manusia tetap menentukan tujuan, mengevaluasi hasil, serta mengambil keputusan.
Ia juga menjelaskan sejumlah risiko penggunaan AI, di antaranya AI dependency, AI validation, AI identity, dan AI emotional substitution.
Untuk menghadapi risiko tersebut, Mustofa memperkenalkan konsep 3T, yaitu Tanya, Telaah, dan Temani.
AI dapat membantu menyediakan informasi. Sementara itu, guru BK tetap memiliki peran penting dalam memberikan empati, memahami konteks siswa, dan mendampingi proses pengambilan keputusan.
Selain materi psikologi dan AI, UBSI turut memperkenalkan program BSI Flash 2027 berupa kompetisi olahraga dan talenta seperti voli dan futsal dengan total hadiah Rp81 juta. Kegiatan tersebut akan digelar di BSI Tegal.
UBSI juga memperkenalkan program BSI Digination yang berlangsung mulai September hingga Januari 2027. Program tersebut memberikan pengalaman praktis mengenai industri digital dengan materi yang disesuaikan dengan kebutuhan sekolah, seperti psikologi, broadcasting, dan AI.
Melalui Seminar dan Awarding Pemuda Digital, UBSI mendorong generasi muda untuk tidak hanya menjadi pengguna teknologi. UBSI juga mendorong siswa agar mampu memahami diri, berpikir kritis, serta memanfaatkan AI secara bertanggung jawab dalam pendidikan dan persiapan masa depan.
- Penulis: Dita Febi Ariyanti

Saat ini belum ada komentar